Nusron-Wahid-Desak-KPPU-Selidiki-Mahalnya-Harga-PCR-Diduga-Ada-Kartel

Nusron Wahid Desak KPPU Selidiki Mahalnya Harga PCR: Diduga Ada Kartel!

Anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid mendorong Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengusut bisnis PCR. Nusron menekankan pentingnya acuan harga PCR.

“Atas nama akuntabilitas dan transparansi, kami meminta kepada presiden induk

perusahaan untuk melaporkan biaya produksi yang sebenarnya. Benarkah yang dikatakan Uda Andre (Andre Rosiade) sebelumnya bahwa harga PCR bisa di bawah Rp 200.000? Benarkah? , kenapa mahal “Tolong jelaskan versi BUMN farmasi,” kata Nusron di RDPU Komisi VI DPR bersama BUMN Farmasi, Selasa (11/9/2021).

Hadir dalam RDPU tersebut Dirut PT Bio Farma Hanesti Basyir, Dirut PT Indofarma Arif Pramuhanto, Dirut Kimia Farma Verdy Budidarmo dan Dirut PT Phapros Hadi Kardoko.
Baca juga:
Anggota DPR tanya kenapa Bio Farma tidak berbisnis PCR: Pak Erick mencegah?

Nusron menduga ada praktik bisnis yang tidak sehat, sehingga harga PCR di Indonesia

tidak masuk akal dan ekonomis. Anggota DPR dari Fraksi Golkar itu mengatakan, praktik bisnis yang tidak sehat bisa berbentuk monopoli atau kartel.

“Oleh karena itu, atas nama hak konstitusional, saya meminta pimpinan Komisi VI untuk mengadakan pertemuan dengan CPPU untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Karena ada dugaan adanya kartel, monopoli atau praktik bisnis tidak sehat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik, Usaha Tidak Sehat, dan Monopoli,” kata Nusron.

Dalam RDPU, Nusron juga mensurvei BUMN farmasi tentang persentase holding BUMN yang menawarkan PCR. Dari pertanyaan tersebut terungkap bahwa dari 48 juta eksemplar hingga saat ini, holding BUMN farmasi hanya melayani 20-22 persen eksemplar. Sisanya swasta.

“Jadi 80 persen swasta ya? Artinya dominasi permainan di swasta,” kata Nusron.

“Ya, Pak Nusron,” jawab Honesti.
Baca juga:
Andre Rosiade membongkar game simulasi PCR, menyinggung “trik”

Nusron kemudian berbagi pengalamannya dengan COVID-19 pada November 2020.

Nusron mengakui biaya PCR setiap kali mencapai Rp 4,5 juta. Kemudian, setiap minggu, mereka terkadang melakukan PCR sekali untuk kondisi dan kepentingan tertentu.

Kemudian harga PCR, atas arahan Presiden Joko Widodo, bisa turun dalam perkembangannya, mulai dari Rp 1 juta dan sekarang di bawah Rp 500 ribu. Terakhir, Presiden Jokowi meminta harga PCR maksimal Rp 300 ribu dan untuk Jawa-Bali Rp 275 ribu.

“Sebenarnya BPP-PCR itu apa menurut BUMN Farmasi versi ini?” tanya Nusron.

Tonton video ‘Andre Rosiade Bedah pada Struktur Harga PCR: Seharusnya di bawah Rp 200.000!’ pada:

LIHAT JUGA :

https://nac.co.id/
https://futsalin.id/
https://evitdermaclinic.id/
https://kabarsultengbangkit.id/
https://journal-litbang-rekarta.co.id/
https://jadwalxxi.id/
https://www.greenlifestyle.or.id/
https://www.kopertis2.or.id/
https://rsddrsoebandi.id/
https://www.ktb-mitsubishimotors.co.id/
https://www.topijelajah.com/
https://mesinmilenial.com/

Rate this post